Menu

Ponpes Tebuireng Terbitkan Maklumat Penanganan Covid-19, Ini Isinya

  Dibaca : 38 kali
Ponpes Tebuireng Terbitkan Maklumat Penanganan Covid-19, Ini Isinya
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin.

JOMBANG, TelisikPos.com – Prihatin dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat terkait adanya kesenjangan persepsi antara sebagian masyarakat dan petugas kesehatan ihwal Coronavirus Disease (Covid-19), Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, akhirnya menerbitkan Maklumat berisi 7 butir.

Pertama, Pesantren Tebuireng mengapresiasi ikhtiar pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya percepatan penanganan Covid-19, khususnya terkait dengan peningkatan jumlah pemeriksaan secara masif dan pelacakan kasus (tracing) di masyarakat.

Kedua, meminta pemerintah mengimbangi ikhtiar positif tersebut dengan memperbaiki strategi komunikasi publik dan memperkuat pendekatan kultural, serta memperhatikan aspek budaya masyarakat dan kearifan lokal di masing-masing daerah.

Ketiga, berkenaan dengan semakin banyaknya kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat, Pesantren Tebuireng meminta semua pihak untuk menjaga kejernihan pikiran, mengedepankan aspek tabayun dan menahan diri dengan tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Keempat, berkaitan dengan proses pemulasaraan jenazah dan pemakaman pasien terduga dan/atau terkonfirmasi positif Covid-19, Pesantren Tebuireng Jombang meminta petugas kesehatan memastikan bahwa proses pemulasaraan jenazah benar-benar memenuhi pedoman pemulasaraan jenazah, sesuai dengan agama yang dianut masing-masing pasien.

Juga, meminta Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan pihak rumah sakit melibatkan tokoh-tokoh agama, untuk memastikan proses pemulasaraan jenazah sesuai dengan agama yang dianut pasien dan menghindarkan keraguan-raguan keluarga serta masyarakat.

“Kita tidak berbicara dalam konteks pemulasaraan jenazah yang muslim saja. Tapi secara keseluruhan, apapun agamanya. Mengingat, proses pemulasaraan jenazah ini cukup sensitif dalam perspektif budaya sebagian masyarakat kita,” tegas KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Ponpes Tebuireng, Minggu (21/6/2020).

Karena itu, berkenaan dengan proses pemakaman jenazah pasien terduga dan/atau terkonfirmasi positif Covid-19, Gus Kikin meminta pemerintah mempertimbangkan aspek budaya dan kearifan lokal.

Jika dimungkinkan, keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal pasien, bisa diberi kesempatan untuk melepaskan keberangkatan jenazah ke tempat pemakaman dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dan dilaksanakan dalam tempo sewajarnya.

“Ada yang mengusulkan, jenazah tetap di dalam ambulans, tanpa harus diturunkan saat disalati dan prosesi pemberangkatan jenazah. Wacana seperti itu perlu dikaji oleh Gugus Tugas dan pihak terkait,” harapnya.

Diberikannya kesempatan pada keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal pasien melepas keberangkatan jenazah ke tempat pemakaman, diharapkan dapat menghapus stigma negatif kepada pasien dan menjadi proses edukasi di masyarakat bahwa Covid-19 bukanlah aib.

“Langkah ini diharapkan bisa jadi jalan tengah, daripada terjadi benturan antara keluarga dan petugas kesehatan, seperti kasus yang marak belakangan,” tandasnya.

“Tapi hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisinya. Kalau pasien meninggal di Surabaya, sementara keluarganya berada di kota yang jaraknya cukup jauh, tentu berbeda pertimbangannya,” sambung putra ahli falak ternama, KH Mahfudz Anwar ini.

Kelima, Pesantren Tebuireng berharap kepada para tokoh masyarakat agar berperan aktif dalam upaya mengedukasi dan menenangkan masyarakat dalam menghadapi situasi pandemi ini.

Keenam, Pesantren Tebuireng mengharapkan semua pihak terkait dengan penanganan Covid-19 untuk mengedepankan sikap jujur, amanah dan pertanggungjawaban moral yang setinggi-tingginya.

Ketujuh, Pesantren Tebuireng juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petugas medis yang telah menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19, dan mendoakan semoga almarhum/almarhumah memperoleh status sebagai syâhid âkhirah di sisi Allâh Subhâhanû wa Ta’âla serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

“Maklumat ini disampaikan sebagai ikhtiar Pesantren Tebuireng untuk mewujudkan kemasalahatan bersama, dan dalam upaya menjaga kondusivitas masyarakat. Termasuk meminimalkan kesenjangan persepsi dan komunikasi antara sebagian masyarakat dan petugas kesehatan,” pungkas Gus Kikin. (tbi/an)

Bagikan:
Editor :


Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional