Menu

Alasan Sepele, Gubuk Warga Ngepeh Jombang Gagal Dapat BSPS 2019

  Dibaca : 238 kali
Alasan Sepele, Gubuk Warga Ngepeh Jombang Gagal Dapat BSPS 2019
Lestari, menantu mbah Klumpuk saat diwawancari awak media di teras rumah gubuk mertuanya.

JOMBANG, TelisikPos.com – Kekecewaan tampak tergurat di raut wajah Lestari (37) warga Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Harapan rumah mertuanya, yakni mbah Klumpuk (65), dibenahi pemerintah melalui program bedah rumah, mendadak sirna.

Sebab itu, hingga kini, Lestari hanya bisa pasrah menempati rumah gubuk mertuanya. Sementara mbah Klumpuk, belum lama ini diungsikan ke tempat tinggal salah satu anaknya atau kakak ipar Lestari di Dusun Mlaten, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, demi alasan kesehatan.

Lestari mengatakan, rumah gubuk seluas sekitar 6 x 15 meter milik mertuanya itu gagal menjadi salah satu dari 50 rumah yang mendapat program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2019. Meski sebelumnya, mertuanya sempat menghadiri undangan dari pemerintah desa (Pemdes) setempat sebagai calon penerima BSPS 2019.

“Kadang kami yang hadir di balaidesa menggantikan mertua kami. InsyaAllah, kalau kami nggak keliru, kami menghadiri pertemuan itu lebih lima kali. Untuk kapannya pertemuan itu, kami lupa. Yang pasti tahun 2019 kemarin,” kata Lestari saat ditemui di teras rumah mertua yang masih berlantai tanah, Minggu (21/6/2020) lalu.

Istri dari Agus Dwi Irawan, anak mbah Klumpuk nomer 9 ini mengaku tidak tahu, penyebab rumah mertuanya gagal dibenahi lewat program BSPS. Meski sejumlah dokumen, lanjut Lestari, yang disodorkan pihak desa, sudah ditandanganinya, dan hanya menyisakan satu tanda tangan.

“Katanya tinggal satu tanda tangan. Nggak tahu dokumen apa yang itu. Kalau kata Kasun waktu itu, rumah ini gagal dibenahi pemerintah, alasannya karena nggak ada yang nyekeni atau menguatkan,” sambung Lestari yang hampir dua tahun tinggal di rumah yang mayoritas berbahan bambu tersebut bersama suami dan anaknya.

Disinggung apakah terkendala kepemilikan lahan atau tanah, Lestari mengatakan, status tanah di atas rumah mbak Klumpuk ini adalah miliknya sendiri. “Memang masih berupa petok D. Belum SHM (Sertifikat Hak Milik). Tapi tanah ini milik mertua kami,” jawabnya.

Diceritakannya, usai menerima informasi jika rumah mertuanya itu akan mendapat program bedah rumah dan beberapa kali hadir ke balaidesa, sebelas anak mbah Klumpuk sempat urunan membeli bahan material seperti pasir dan batu.

Alasannya, sebagai antisipasi jika ada kekurangan bahan material yang sudah disiapkan dari program itu. Sebab menurutnya, program BSPS tersebut berupa bantuan bahan material ditambah ongkos tukang.

“Akhirnya, material yang kami beli hasil urunan keluarga ya tetap ada di situ. Sampai saat ini nggak dipakai. Kalau tukangnya, sudah ditunjuk pihak sana,” katanya sambil menunjuk pasir yang sudah sedikit berserakan di halaman. Sementara batu kali, tertata di pinggiran jembatan saluran irigasi depan rumah tersebut.

Sementara Kades Rejoagung, Ahmad Kasani mengatakan, program BSPS tahun 2019 sudah dilaksanakan di desanya sesuai jumlah yang ditentukan, yakni 50 rumah. Pihaknya juga menyatakan tidak tahu, kalau ada satu warganya gagal mendapatkan program tersebut.

Menurutnya, pihak pemerintah desa (Pemdes) hanya melakukan pendataan siapa saja warganya yang berhak mendapatkan program bantuan bedah rumah, untuk diajukan.

“Total yang mendapat program BSPS ada 50 rumah, dan sudah terlaksana semua. Soal ada yang gagal mendapatkan, itu bukan ranah Pemdes. Karena program ini ada pendamping. Ya bisa saja, pendamping yang tidak merealisasikan,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (22/6/2020). (an/tp)

Bagikan:
Editor :


Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional